LP2M IAIN Tulungagung Gelar Workshop Metodologi Penelitian Perspektif Gender

Senin, 01 Oktober 2018 11:50
Print

Tulungagung - Sabtu (29/09/2018) pukul 16.35 WIB Workshop Metodologi Penelitian Perspektif Gender resmi diakhiri dengan bacaan alhamdulillah bersama-sama. Saking asiknya menyimak pemaparan materi, jadwal penutupan yang sedianya bisa diakhiri pukul 16.00 WIB, sedikit molor lebih dari setengah jam. Karena, pemateri yang didatangkan dalam workshop kali ini amat spesial yaitu, Prof. Irwan Abdullah, Ph.D., salah satu guru besar Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Penjelasannya yang kalem, runtut, dan enak dipahami mampu menyihir peserta workshop hingga lupa waktu. “…sangat mudah dipahami penyampaian materinya”, ujar Noer Farida Laila, salah satu peserta workshop.

Prof. Irwan didatangkan sebagai pemateri karena latar belakang keilmuannya yang memang banyak mengangkat isu gender. Beberapa karya beliau diantaranya; Sangkan Paran Gender, Seks, Gender dan Reproduksi Kekuasaan, Penelitian berwawasan gender dalam ilmu sosial.

Acara workshop sendiri diadakan oleh Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) LP2M IAIN Tulungagung. Workshop diadakan selama dua hari, dari hari Jumat hingga Sabtu (28 – 29 September). Acara pembukaan pada Jumat pagi pukul 09.00 dibuka langsung oleh Rektor IAIN Tulungagung, Dr. Maftukhin, M.Ag. Dalam sambutannya, rektor mengatakan bahwa proses riset harus disertai dengan semangat diseminasi keilmuan bukan semata mengejar kepangkatan atau guru besar. "Meski Scopus menjadi satu-satunya syarat legitimasi publikasi yang dijadikan parameter menuju guru besar namun bukan berarti mengabaikan semangat untuk mengembangkan keilmuan", tuturnya.

Selain itu, rektor berharap, seyogianya riset-riset sosial- keagamaan juga berkolaborasi dengan sainstek agar tak semata an sich mengkaji agama saja. Ke depan riset-riset di IAIN tidak hanya berguna bagi individu tapi juga masyarakat. Istilahnya, adalah riset masturbasi, alias riset yang berguna bagi dirinya sendiri. Setidaknya, riset harus memberikan pengaruh kepada masyarakat dan keilmuan.

Dalam kesempatan yang sama, karena tajuk workshop tentang gender, rektor mendorong para dosen untuk melakukan penelitian perspektif gender. “Kedepan dosen-dosen IAIN (Tulungagung, red) perlu meneliti apakah kegiatan perkuliahan sudah memerhatikan kesetaraan gender atau belum? Manajemen pembelajaran di kelas sudah berpatokan kesetaraan gender atau belum? Bangunan kampus sudah memerhatikan kesetaraan gender atau belum?”

Peserta yang mengikuti workshop adalah dosen-dosen IAIN Tulungagung diambil dari empat fakultas yang ada di IAIN Tulungagung. Total keseluruhan peserta sendiri sebanyak 80 orang.

Pelaksanaan workshop dibagi menjadi empat sesi. Sesi pertama dilaksanakan pada pukul 09.00 – 11.00 WIB dengan materi “Konsepsi dan Teori Gender”. Kemudian dilanjutkan sesi kedua pada pukul 13.00 – 16.00 WIB dengan materi “Metode Penelitian Perspektif Gender dan Implementasinya dalm Penyusunan Proposal”. Sesi ketiga dilaksanakan di hari kedua, Sabtu pagi pukul 08.00 – 11.00 WIB, dengan dua materi sekaligus yakni, “Alat Analisis Gender dalam Penelitian” dan “Riset berbasis Analisis gender dan Peluang Meraih Pendanaan Penelitian Kompetitif Kemenag RI”. Pukul 12.00 dimulai sesi keempat atau yang terakhir dan yang paling ditunggu-tunggu oleh para peserta yaitu, ”Praktik Menyusun Proposal Riset Perspektif Gender”.

Secara khusus, di sesi keempat oleh Prof. Irwan peserta diajak membedah karya bertema gender yang sudah diunggah di jurnal online. Selain dari sumber tersebut, Prof. Irwan juga membedah proposal peserta workshop yang mereka siapkan. Interaksi forum antara pemateri dan peserta workshop menjadi sangat hidup. Para peserta banyak mengungkapkan kendala-kendala dalam penelitiannya yang kemudian ditanggapi langsung oleh pemateri dengan saran-saran briliannya.

Secara umum, workshop berjalan sangat baik dan lancar. Selepas berakhirnya workshop juga berarti sebuah awal bagi para peserta untuk mengejawantahkan teori yang diperoleh dalam wujud nyata. Banyak PR yang harus dikerjakan para peserta. Salah satunya adalah tantangan yang disampaikan rektor agar dosen semakin produktif dalam berkarya, dan karyanya harus juga berperspektif gender.

Selanjutnya, diharapkan para peserta workshop bisa menjadi benih untuk diseminasi pemikiran seputar gender di fakultas masing-masing, mampu mengajar dan memanajemen kelas sesuai kesetaraan gender, dan semakin banyak penelitian atau karya-karya para dosen yang berperspektif gender. Dalam lingkup lebih luas, semoga IAIN Tulungagung bisa menjadi kampus yang menjunjung tinggi kesetaraan gender.

“Setelah workshop ini, diharapkan presentase penelitian-penelitian yang dihasilkan dosen IAIN Tulungagung 30% dari 100% adalah karya-karya berperspektif gender”, pesan Lailatuzz Zuhriyah, Pelaksana Tugas Kepala Pusat PSGA IAIN Tulungagung.(lp2m for humas)