Selasa, 22 Mei 2012 15:50
Print

NAMA            : Dr. Maftukhin, M.Ag.
TTL : Pekalongan, 17 Juli 1967
Alamat : Singkalanyar RT.03 RW.07 Prambon Nganjuk
Nama istri : Elfin Indah Wahyudah
Anak I :

Muhammad Syauqi Jonnata Maftuh

Anak II :

Muhammad Kanza Nadziriamiq Maftuh

Nama ibu : almh. Rasiyah
Nama ayah : alm. Rasmani
Pendidikan Formal
: S1 Lirboyo
S2 IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Pendidikan non Formal :

PP Rohmatul Mubtadi’in Pekalongan 1981-1987
PP Miftahul Ulum Pageraji Purwokerto 1986
PP APIK Kaliwungu Kendal 1985
PP Hidayatul Mubtadi’in Lirboyo 1987-1992
PP Miftahul Ulum Pare Kediri 1988-1989
PP Al-Munawir Krapyak Yogyakarta 1993-1994

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Masa kecil

SDN Pecakaran Wonokerto Pekalongan. biasa kehidupan di masa kecil seperti umumnya anak-anak yang lain kalau pulang sekolah mencari ikan di sungai sebagai refresing. Tapi secara rutin, Maftukhin habis sekolah cari rumput ngarit untuk menghidupi kambing-kambing miliknya sendiri dan sapi-sapi milik orang tuanya. Hal ini dilakukannya sampai tamat.

 

Masa remaja

Kehidupan masa kecil yang keras dan disiplin yang ditanamkan leh ayahnya, menjadikan ia tegar dan tahan uji. Selanjutnya di masa remaja, Maftukhin sekolah di MTs Hidayatul Athfal Banyuurip Alit Buaran Pekalongan. Biasa kehidupan di pesantren ia selain ngaji juga selalu membantu kyai, seperti menjemur padi.

Selanjutnya ia belajar di MA salafiyah Simbangkulon Buaran Pekalongan. Masih di pesantren yang sama, ia sekolah dengan jalan kakli ke sekolah sekitar 5 km dari pesantren.

 

Pesan dan nasihat orang tua

Kedua orang tua Maftukhin sangat disiplin dalam mendidik anak-anaknya. Mereka terutama ayahnya, menanamkan agama yang kuat dalam diri mereka. seperti kata maftukhin, ayahnya berpesan kepadanya ketika ia diperintahkan untuk mondok. Demikian psan ayahnya : “Adoh dadi adem cedek dadi panas (Jauh jadi dingin dekat jadi panas). Maksudnya, kalau suka pada sesuatu itu jangan terlalu dan kalau benci pada sesuatu juga jangan terlalu, karena mencintai atau membenci yang terlalu itu tidak baik”.

Sebetulnya cita-cita orang tuanya sangat sederhana tetapi mulia, yaitu mereka ingin anaknya sekolah di pesantren dan pulang bisa jadi tokoh agama. Oleh karena itu mereka mendisiplinkan terhadap pendidikan anaknya. “Pernah pada suatu hari, waktu saya disuruh ngaji saya tidak mau. Lalu ayah saya menaruh sesuatu di depan saya yaitu dua hal, yang pertama timba berisi air dan yang kedua adalah sebuah juz amma dan kitab. Saya disuruh memilih. tetapi kalau saya memilih timba (itu artinya saya tidak mau ngaji), maka saya ya diguyur pakai air dalam timba itu” katanya sambil tertawa…..

 

Cita-cita

Dulu cita cita saya ingin jadi pengusaha batik. Cita-cita itu sempat kesampaian sekitar 1991-1993. Setelah itu tahun 1993, saya diterima di S2 IAIN Yogyakarta dengan beasiswa. Di sana saya sambil mondok di Krapayak sampai tamat dan tetap ngajar di krapyak dan bertemu dengan beberapa tokoh seperti Prof. Yudia, Prof. Mahasin, Prof. Malik Madani, dsb. Habis itu saya pulang kembali ke PP Lirboyo untuk mengajar di sana. Kemudian saya ke Tulungagung th 1999. Di tahun 2000 saya diangkat menjadi CPNS di STAIN. Sebelum di STAIN, saya menjadi dekan Fakultas Tarbiyah IAI Tribakti sampai 2000 dan samai sekarang saya masih aktif mengajar di kampus tersebut.

 

Pengalaman Jabatan

Di STAIN, saya pernah menjadi Ketua Prodi Ahwalu Sahsiyah, Sekretaris Jurusan fak. Syari'ah, Sekretaris Progam Pasca Sarjana, sdan setelah itu saya tidak menjabat apapun di STAIN.Tetapi pada tahun 2008, saya menjadi Pembantu Rektor 1 di IAI Tribakti. Baru tahun 2010 terpilih jadi Ketua STAIN sampai sekarang yang telah berubah menjadi IAIN.

 

Pengembangan IAIN ke depan

Impian STAIN Tulungagung untuk meningkatkan status menjadi IAIN akhirnya terwujud. Impian ini memang sudah lama dinantikan. Peningkatan status ini membawa angin segar dan semangat baru bagi kampus IAIN Tulungagung untuk terus berbenah diri demi menjawab tantangan pendidikan, diantaranya krisis moral karena minimnya pemahaman agama Islam. Oleh karena itu peningkatan status ini dinilai sangat tepat dan strategis.

Seperti diketahui bahwa sejak ditandatangani Surat Keputusan Presiden Nomor 50 pada tanggal 30 Juli 2013 dan diundangkan di Lembar Negara RI Nomor 120 pada tanggal 6 Agustus 2013, STAIN Tulungagung resmi berubah status menjadi IAIN bersama dengan 4 STAIN yang ada di ibukota propinsi lain yaitu : STAIN Ternate di Prop. Maluku Utara, STAIN Palu di Prop, Sulawesi Tengah, STAIN Pontianak di Prop. Kalimantan Barat, dan STAIN Padangsidempuan di Prop. Sumatra Utara.

Perubahan status tersebut berangkat dari adanya Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012 yang mengatakan bahwa bentuk pendidikan tinggi keagamaan itu bisa berbentuk Universitas, Institut, dan Sekolah Tinggi. Jika Sekolah Tinggi hanya bisa mengelola satu rumpun ilmu, Institut mengelola beberapa rumpun ilmu, maka Universitas bisa mengelola berbagai rumpun ilmu. Maka dengan beralihnya status dari STAIN menjadi IAIN ini bertambah pula kewenangan perguruan tinggi tersebut untuk mengelola beberapa rumpun ilmu. “Jadi perubahan STAIN ke IAIN berarti secara akademik kelembagaan berdampak pada bertambahnya kewenangan untuk mengelola beberapa rumpun ilmu.” Tutur Dr. Maftukin, M.Ag., Rektor IAIN Tulungagung.

Dalam Undang-Undang tersebut juga disebutkan bahwa secara politik pendidikan, pendidikan tinggi terdiri dari tiga tingkatan, yaitu STAIN, IAIN, dan UIN. STAIN diproyeksikan areanya bersifat lokal kabupaten/kota dalam propinsi, Institut diproyeksikan areanya sampai tingkat nasional, dan Universitas diproyeksikan areanya sampai tingkat internasional. Oleh karena itu, prioritas beralihnya status dari STAIN ke IAIN itu secara garis umum adalah STAIN yang ada di ibukota propinsi, bukan di kabupaten/kota. Tetapi dalam perkembangannya, STAIN yang ada di kabupaten/kota bisa beralih status ke IAIN jika telah memiliki great yang sama atau bahkan melebihi great STAIN yang ada di ibukota propinsi. STAIN Tulungagung termasuk perguruan tinggi yang dinilai bisa sepadan dengan STAIN yang ada di ibukota propinsi. “STAIN Tulungagung masuk sejajar bahkan memiliki great lebih tinggi dengan empat STAIN di tingkat propinsi yang secara bersama-sama berubah menjadi IAIN tadi.” Jelas alumni S-3 Filsafat UIN Yogyakarta ini penuh antusias.

Ia melanjutkan penjelasannya bahwa secara akademik, great STAIN Tulungagung dinilai dari sisi kapasitas SDM, kapasitas sarana dan prasarana, kapasitas mahasiswa, kapasitas akademik, dan kapasitas anggaran berada di ibukota propinsi (disamakan dengan STAIN yang ada di tingkat propinsi). Bahkan nilai yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama RI, Menpan, dan Setkab untuk STAIN Tulungagung ini tertinggi dari empat STAIN di atas. “Dengan demikian dapat dikatakan bahwa STAIN Tulungagung yang kini sudah berubah status menjadi IAIN ini memiliki area sampai tingkat nasional, meskipun ia berada di wilayah kabupaten dalam propinsi, bukan di ibukota propinsi seperti empat IAIN baru lainnya.” Ungkap laki-laki kelahiran Pekalongan ini tersenyum.

Dampak perubahan status tersebut sungguh luar biasa. Dampak terlihat terutama pada kenaikan mahasiswa yang cukup signifikan, yakni dari jumlah mahasiswa baru yang tahun kemarin (2012) saat masih berstatus STAIN sebanyak 1153 orang kini tahun 2013 menjadi 1600 orang. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sangat antusias dengan beralihnya status ini. Dampak lain adalah mahasiswa IAIN baru ini berasal dari berbagai kota dalam propinsi dan bahkan ada mahasiswa dari Thailand sebanyak 20 orang. “Ini berarti alih status kita ke IAIN juga sudah di dengar di Thailand”. Ungkap suami dari ………. penuh semangat.

Dengan beralihnya status tersebut dan memperhatikan berbagai dampak yang muncul, membawa konsekuensi IAIN Tulungagung untuk terus melakukan upaya perbaikan di segala lini baik perbaikan fisik maupun non fisik. Perbaikan diprioritaskan pada kapasitas SDM dosen, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, kemahasiswaan, penambahan akses pendidikan tinggi.

SDM dosen terus ditingkatkan kualitasnya melalui studi lanjut, workshop, research , dan pengabdian dosen. IAIN Tulungagung kini memiliki 4 guru besar, 40 doktor dan sebagian lainnya sedang proses studi S-3. “Jumlah akan terus kita tambah”, kata bapak ….anak ini meyakinkan.

Dalam hal sarana dan prasarana yang diutamakan adalah penambahan kelas-kelas dan ma'had al-Jami'ah . “Karena sementara ini kamar ma'had memang sangat kurang yakni 60 kamar dan hanya bisa menampung 360 mahasiswa. Padalah jumlah mahasiswa mencapai ribuan. Untuk itu penambahan kamar ma'had merupakan program wajib”. tambahnya lagi.

Keberadaan kapasitas ma'had memang sangat dibutuhkan di IAIN Tulungagung ini. Karena direncanakan bahwa nantinya sekitar 4 atau 5 tahun ke depan, semua mahasiswa IAIN Tulungagung harus berada di ma'had. Maftukin menyatakan bahwa trilogi pendidikan, yakni aspek kognisi, afeksi dan psikomotor mahasiswa hanya bisa dicapai bila mereka berada di ma'had.

Dengan pendidikan ma'had pula, berarti peningkatan kualitas kemahasiswaan telah dan sedang dilakukan dari segi kualitas intelektual, profesional dan spiritual. Dia mengatakan : “Apapun jurusannya, mahasiswa IAIN Tulungagung mesti ngerti keagamaan secara baik dan benar, karena itu tiga warna ini harus betul-betul menjadi kekuatan bagi alumni IAIN nantinya.”

Memang, mahasiswa yang tinggal di ma'had bisa mengikuti pendidikan agama selama 24 jam. Hal ini sangat besar pengaruhnya bagi mahasiswa terutama yang belum bisa membaca al-Qur'an dan paham agama secara benar. Dengan pendidikan ma'had, IAIN Tulungagung nantinya diharapkan bisa mencetak ulama yang intelek dan intelek yang ulama. Mereka pun akan mampu dipersaingkan di tengah derasnya arus tantangan zaman.

Untuk memperluas akses pendidikan, maka IAIN Tulungagung juga melakukan penambahan akses yang berdaya saing secara nasional dan bahkan menyiapkan akses secara internasional. Tujuannya seperti yang dituturkan oleh Maftukin : “Satu hal yang akan kita tuju adalah bahwa kita akan bawa Islam ini sebagai rahmatan lil ‘alamiin ke berbagai negara di Asia. Kita yakinkan mereka bahwa anak-anak mereka bisa dipercayakan kepada kita untuk pendidikan keagamannya.”

Demikianlah, upaya perbaikan terus dilakukan oleh IAIN Tulungagung ini. Semangat berbenah diri semakin tinggi. Langkah pasti menuju masa depan IAIN yang lebih baik semakin mantap. Kita semua berharap bahwa perubahan status ini betul-betul dapat menjawab kebutuhan masyarakat dalam menghadapi krisis moral yang semakin memprihatinkan karena minimnya pemahaman agama. IAIN Tulungagung yang nantinya bercita-cita menjadi UIN ini diharapkan mampu untuk mendidik para generasi muslim yang tangguh menghadapi masa depan. Untuk mewujudkan itu semua perlu adanya kerjasama yang baik dari pemerintah, kampus, orang tua mahasiswa dan masyarakat.

Akhirnya kami ucapkan Selamat dan Sukses untuk IAIN Tulungagung semoga menjadi IAIN yang berkontribusi besar untuk kebangkitan peradaban Islam. (Nurul Hidayah, reporter Tulungagung, 17 Oktober 2013).

 

Idul Fitri bagi Pemimpin

Idul fitri merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan umat Islam sehari-hari. Manusia di dalam al-Qur'an diumpamakan seperti proses rembulan. Rembulan itu awal lahir dari yang kecil, kemudian membesar yang disebut hilal. Orang jawa bilang rembulan nanggal sepisan. baru kemudian naik muncullah yang disebut al badru = bulan purnama. manusia juga seperti itu. Ia menapaki hidup ini mulai dari kecil. Kemudian menjadi semakin besar. Ini pada masa puncak namanya purnama = kesempurnaan hidup. Purnamanya manusia itu adalah umur 40 tahun. makanya kalau misalkan seseorang itu dibentuk setelah 40 th itu tidak banyak berpengaruh. Maka pembentukan karakter seseorang itu adalah sebelum usia 40 tahun.

Makanya sebetulnya pemimpin yang bagus itu pada masa usia sekitar 40 sampai 50 tahun, karena usia tersebut manusia sudah matang dalam banyak hal.

Kehidupan manusia itu diawali dari masa awal kemudian masa purnama dan kemudian akan kembali lagi pada masa awal di mana ia kembali seperti anak kecil lagi yang selalu ingin dilayani, mudah emosi, mudah tersinggung dsb. ini yang terjadi pada kehudupan manusia.

Makanya makna fitri itu sebetulnya, bahwa setelah seseorang itu mencapai masa puncak, ia akan kembali seperti masa awal. Kehiduapn seseorang itu seperti piramida, mulai dari bawah kemudian naik ke atas dan kemudian kembali lagi ke bawah. Nah, tentu di tengah jalan manusia seringkali harus mengalami rintangan kadang kecil kadang besar. Inilah yang kemudian dalam setiap step (tahap) kehidupan manusia yang mana umur manusia itu diukur dengan “tahun”, untuk supaya mampu menghadapi rintangan dan tetap dalam kekuatan iman, perlu adanya evaluasi diri, yang dilakukan setiap tahun, yaitu dengan puasa ramadhan.

Puasa ini penting bagi manusia dalam rangka proses pembentukan karakter dan sebagai evaluasi diri, supaya kehidupan manusia menjadi lebih indah, lebih baik dan bermakna. seperti ulat itu yang ketika masih menjadi ulat sangat menjijikkan. kemudian ia melakukan puasa (proses kepompong), sehingga menjadi kupu-kupu yang indah.

Karena itu orang yang setelah puasa itu kemudian menjafi fitri, maka inilah yang disebut sebagai proses kepompong, ia lahir kembali bersih. terjadi revolusi karakter, hati, mental, dan sebagainya.

Nah oleh karena itu, sesungguhnya puasa dan idul fitri itu merupakan satu kesatuan yang utuh. Jika setiap manusia mampu melakukan puasa yang baik dan benar maka ia akan kembali fitri.

Dalam sebuah lembaga atau daerah, misalnya jika semua manusia mampu menjalankan hal tersebut maka akan sangat luar biasa. maka akan muncul orang-orang yang berfikir jernih, cerdas, berpikir ke masa depan.

 

Sebagai pemimpin dalam keluarga

Dalam kehidupan keluarga, sebagai pemimpin keluarga, hal pertama yang saya lakukan adalah mesti membangun rasa saling percaya. itu penting, kepercayaan bahwa seorang itu baik, tetapi bisa saja kita salah. oleh karena itu yang kedua harus ada saling keterbukaan. Keterbukaan itulah yang bisa disebut sebagai puasa, karena biasanya keterbukaan/kejujuran itu kadang-kadang sakit. keterbukaan melahirkan evaluasi. Ketiga adalah memahami kebutuhan orang lain sebagimana kita membutuhkan orang lain.

Sebagai kepala keluarga, Maftukhin sangat menyayangi keluarganya dan menerapkan pendidikan agama yang kuat kepada mereka, karena ia menyadari bahwa agama adalah pondasi dalam kehidupan. Ia sangat dekat dengan anak-anaknya. Bahkan meskipun ia sekarang telah menjadi Rektor, sebuah amanah yang sangat berat, ia selalu menyempatkan diri sesering mungkin untuk pulang ke Nganjuk menemui anak dan istri tercintanya.

 

Sebagai pemimpin dalam lembaga pendidikan

Mengatur kantor atau lembaga pendidikan, hampir sama dengan mengatur rumah tangga. Pemimpin harus bisa membangun rasa saling percaya, kejujuran/keterbukaan dan saling membutuhkan kepada civitas akademika.

Oleh karena itu, untuk mencapai sebuah tujuan organisasi, pemimpin mesti bisa mengajak bersama-sama civitas akademika untuk menentukan skala prioritas, yang disesuaikan dengan kemampuan yang ada.

Itulah kemudian dikatakan bahwa salah satu kunci seorang pemimpin itu harus bisa memahami yang dipimpin. Jika pemimpin mampu memahami yang dipimpin, maka ia akan selalu melindungi dan melayani. Itulah hakikat kepemimpinan yang dilakukan oleh Rasulullah Saw.

 

Kesimpulan :

Puasa yang benar akan menjadikan manusia muslim yang suci lahir batin, cerdas dan berakhlak mulia. Hal ini sebagai modal bagi kesuksesan memnjadi pemimpin. Jika sang pemimpin memiliki hati yang bening dan bersih, ia akan mampu memimpin dengan baik dan memiliki ide-ide brillian untuk kemajuan lembaganya yang dipimpinnya. Itulah yang selalu diusahakan dan diuswahkan oleh Maftukhin baik di dalam kehidupan keluargnya maupun dalam memimpin kampus IAIN. Dengan demikian maka tidak heran jika IAIN sampai hari telah mengalami kemajuan yang signifikan apalagi sejak berubahnya status dari STAIN menjadi IAIN.

 

Kepribadian :

Murah senyum, low profil , suka menyapa dan sangat akrab dengan bawahan. Ia membiasakan diri akrab dengan siapapun baik dosen, pegawai maupun mahasiswa. sselalu memberikan contoh yang baik